Posts

Showing posts with the label twitpuzzle

Memperbaiki Rasa

Image
pic. koleksi pribadi Saya senang dihadapkan dengan beberapa kejadian yang tak menyenangkan. Karena disaat yang sama, saya pun belajar untuk menahan diri agar tidak terintimidasi dengan keadaan yang “mendung” itu. Pekerjaan saya adalah pekerjaan yang banyak berhubungan dengan manusia. Bukan benda mati seperti komputer, atau juga handphone. Wajar jika tiba disatu titik saya ‘harus’ jenuh. Sekali lagi, itu karena saya sedang tidak bekerja dengan benda mati. Tapi makhluk hidup yang mempunyai hati.  Menghadapi manusia dengan sifat yang berbeda benar-benar menguji sisi sensitifku. Terlebih saya orangnya cenderung emosian. Tapi karena sadar saya adalah manusia yang emosinya cepat meninggi. Disaat itulah saya harus bisa mengelola emosi agar keadaan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tidak jarang saya berusaha sekuat-kuatnya bertahan untuk tidak terintimidasi dengan keadaan yang terjadi secara alamiah karena ulah orang lain.   Dipekerjaan saya sehari-hari misalnya, ...

#elpk Lembar 3

M enjaga kehormatan orang lain dengan menutup aibnya, itu mencerminkan kemuliaan diri kita. Jadi yah buat siapa yg suka ngomongin aib orang lain, apa bs dikatakan mulia?  Teruslah membuatku cemburu, agar aku tak berhenti dan selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian-Mu.. Ya Rabb..  Ingatlah titah yg tersirat di azzalzalah, bahwa apapun kebaikan yg kita lakukan akan dibalas, walau hanya seberat zarrah :)  Kebanyakan kita terlalu PD dengan usia hidup, lupa kalau usia itu punya batas. Padahal besok belum tentu milik kita.  Setelah semuanya terbongkar, kematian itu terasa semakin dekat bagiku. Jika keberpihakan itu ada disini, berharap semoga tak ada rasa tamak setitik pun dihati & diri ini. Aamiin

#elpk Lembar 2

Pelajaran hari ini: jangan jatuhkan harga diri sampai memunculkan presepsi negatif orang lain, hanya karena tidak bisa menata sikap. Kembali mengevaluasi diri atas setiap kejadian. Tingkatkan budaya membaca dan ekspresikan dirimu dg tulisan. Sesakit-sakitnya tupai jatuh, dia akan melompat lagi. Tidak semua keinginan harus dipenuhi, kita punya waktu yg sudah punya porsi masing-masing. Pada akhirnya, siapa mengerti siapa? Kamu keras, saya keras. Saya tegas, kamu tegas. Konflik? itu biasa :)  Yang penting saya dan kamu bisa sama-sama mendinginkan kepala juga hati, dengan keyakinan "besok pasti baikan lagi" :) Dan yang pasti, baikannya bukan karena sogokan, apalagi nasikuning. Itu tak sejati namanya. Intinya, kita harus bisa berjiwa besar pada tiap keadaan, tiap konflik. Yang egois, yang gak mau kalah.  Sudah. Lebur. Yuk mari kita gunakan salah 1 dari 4 kata ajaib. MAAF. Pasti luluh :) Bagi org lain, kehadiran kita disisinya, dalam duka & k...

#elpk Lembar 1

Objek apapun yang kita tangkap, tentu pny makna & memori tersendiri untuk dikenang. Karena ceritanya unik, saya yakin, semua akan menjadi indah. Pada akhirnya, keputusan terbaik kita yang akan memberikan hasil yang berkualitas Tidak perlu tanya, 'apa maksud dari semua ini?'. Nikmati saja sist, tak usah ngeluh, bukankah mengeluh itu melelahkan? *senyun simetris* Presepsi yang terlambat itu bisa jadi jalan. Anggap saja ini reinkarnasi hati yang dulu pernah mati. Bicara soal Indonesia, bicara tentang kita. Antara siapa & siapa, dan untuk apa. Memejamkan mata dg sejuta impian yg tdk akan ikut larut dalam mimpi. Smg bsk msh diberi kesempatan utk merajut impian2 itu jadi nyata. Membahas teritorial negeri ini gak akan ada habisnya kecuali telah lahir sebuah keputusan baru yang bisa 'memerdekakan warganya'. Saat melucumu tak lucu. Jangankan tertawa, senyum mereka pun tak kau dapat. Menikmati teh melati untuk menetralkan suasana tidak enak yang...

Kisah berbagi seorang Ibu

Kisah Nyata, suatu sore... Belajar pada sosok perempuan yang gemar berbagi. Saat anaknya pulang membawa makanan, yang hanya cukup untuk satu orang. Makanan itu diberikan ke ibunya. Si ibu senang dan berterimakasih kepada anaknya. Tapi, diluar ada ibu suaminya (mertua) yang sedang duduk menikmati sore. Si ibu keluar menemui mertuanya yang sudah sepuh. Dibaginya makanan itu pada orang yang sudah dia anggap ibunya sendiri, padahal makanan itu hanya cukup untuk 1 orang.  Ibu: ibu mau ini? | Ibu mertua: apa ini? *melihat makanan* | Ibu: ini yang dibawa si fulanah dari tempat kerjanya, ibu bisa kok makan makanan ini. Ini tdk apa-apa ibu makan, tidak mempengaruhi kesehatan ibu (lanjutnya) | Ibu mertua: *menggangguk tanda setuju*. Maklum, ibu mertuanya sudah divonis penyakit ini itu oleh dokter. Makanya tak boleh makan sembarangan.  Pesan apa yang bisa kita jadikan pelajaran dari kisah singkat ini?

Merecoki anak, perlukah?

Tarbiyatul aulad (mendidik anak) itu hampir tiap hari saya lakoni, di sekolah. Saya selalu berusaha untuk berkata-kata yang baik ke anak-anak. Tapi ternyata diet merecoki anak-anak dengan kalimat yang mengintervensi mereka itu gak gampang.   Jangan dan harus, adalah 2 kata baku yang mengintervensi dan mengintimidasi anak. Ini yg perlu dihindari, tapi jujur deh temans, untuk menghindari 2 kata baku itu, tidak semudah mulut bilang bisa loh :( Kalau toh kata-kata itu terlontar tanpa sengaja, beristighfar dan meralat kembali dengan gaya bicara penuh hati-hati adalah cara net o :D   Karena kalau tidak, siap-siap saja, anak-anak akan merasa terintimidasi dan pasti akan

tentang benci

"sedih ini berasal dari mana?" "atas dasar apa air mata ini mengalir?" "Apa aku harus minta maaf? sedang rasa benci sudah terlanjur tertuju ke diri ini. Salah saya apa?" seorang perempuan terus bertanya-tanya dalam hati... "lebih baik membaca daripada menangis. kalau membaca terus, kapan tidurnya? tapi kalau mau tidur yang ada malah nangis-nangis," katanya ditengah malam. "Harusnya kamar baru ini bisa jadi tempat penenang yang baik, tapi sepertinya bukan untuk saat ini. Mungkin nanti!" sambil dengar lagu # gemilang milik A ndien, berharap esok gemilang seperti yang ada dilirik lagu ini. ingatkah dengan kalimat ini?