Saya selalu tertarik kalau diajak ngobrol soal buku, keluarga, kota, sosial, edukasi, gaya, pemuda, enterpreneurship , psikologi anak, dan perubahan. Oiy, satu lagi, budaya. (meskipun semuanya tidak saya kuasai secara keseluruhan) *senyum*. Semua saling bersinergy. Kenapa bersinergi? Karena yang saya sebutkan tadi adalah hal-hal yang bersinggungan langsung dengan kehidupan manusia. Manusialah yang mensinergikan semuanya. Apalagi kalau diskusi seperti ini sama teman-teman yang visioner. Nyambung, sejalan, dan pasti “menjadi”. Sudah terbukti! Tidak sekadar diskusi, diskusi-diskusi itu dilakukan untuk merancang dan mendapatkan hasil. Paling tidak, ada pengaruh positif secara individual setelah berdiskusi. Lebih keren lagi kalau memang tujuan diskusinya adalah untuk perubahan sesuatu. Kota misalnya. Atau diskusi tentang aksi sosial, atau apa saja asal positif. Untuk perubahan.
Putriku tercinta dan guru yang tak ternilai, Asma al-Beltaji. Saya tidak mengucapkan selamat tinggal kepadamu, saya katakan besok kita akan bertemu lagi. Engkau telah hidup dengan kepala terangkat ke atas, melakukan pemberontakan melawan tirani dan belenggu dan mencintai kebebasan. Dengan diam, engkau telah hidup sebagai seorang pencari cakrawala baru untuk membangun kembali bangsa ini sehingga mereka mempunyai tempat yang layak di antara peradaban. Engkau tidak pernah menyibukkan diri dengan apa yang orang-orang seusiamu sibuk melakukannya. Meskipun pendidikan tradisional gagal memenuhi aspirasi dan ketertarikanmu, engkau selalu menjadi yang terbaik di dalam kelas. Saya tidak memiliki cukup waktu yang berharga dalam hidup yang singkat ini, terutama
Siang ini, seperti biasa sebelum pulang ke rumah saya menunggu Nisa di sekolah untuk belajar mengaji. Saya dan Nisa tidak ada bedanya, kami masih sama-sama belajar. Nisa belajar membaca al Qur’an sementara saya belajar untuk bersabar mendengarkan Nisa mengaji dan mengoreksi bacaannya jika keliru. Saat kami berdua sedang akan memulai, tiba-tiba Kiya dan Ayu ikut duduk di sebelah Nisa. Rupanya mereka juga ingin mendengar bacaan Qur’an Nisa. Duduklah kami berempat di ruang terbuka depan kelas. Selalu terjadi perdebatan antara saya dan Nisa sebelum memulai membaca Qur’an. Ini soal berapa banyak halaman yang akan dia baca. Nisa adalah anak yang cerdas dan kritis. Saya selalu keliru mengucapkan kata lembar dan halaman, dan siang itu saya menyebut dua lembar. Sontak Nisa menimpali, “Bu guru lisa, kalau 2 lembar itu berarti saya harus baca 4 halaman???”. Dalam hati, “tuh kan salah lagi, hehehe”. Saat saya memintanya untuk
Comments