Friday, September 20, 2013

untittled

ikhlas.
seberapa besar kita memahami kata ikhlas.
sudah cukupkah jika hanya sebatas memahami?

belajar menerima. belajar memahami. belajar mencintai.
muaranya adalah ikhlas.
disini kita sama. 
yang menjadi pembeda adalah siapa yang lebih dulu ada.
aku atau kamu?

Tuesday, September 17, 2013

Memperbaiki Rasa

pic. koleksi pribadi
Saya senang dihadapkan dengan beberapa kejadian yang tak menyenangkan. Karena disaat yang sama, saya pun belajar untuk menahan diri agar tidak terintimidasi dengan keadaan yang “mendung” itu. Pekerjaan saya adalah pekerjaan yang banyak berhubungan dengan manusia. Bukan benda mati seperti komputer, atau juga handphone. Wajar jika tiba disatu titik saya ‘harus’ jenuh. Sekali lagi, itu karena saya sedang tidak bekerja dengan benda mati. Tapi makhluk hidup yang mempunyai hati. 

Menghadapi manusia dengan sifat yang berbeda benar-benar menguji sisi sensitifku. Terlebih saya orangnya cenderung emosian. Tapi karena sadar saya adalah manusia yang emosinya cepat meninggi. Disaat itulah saya harus bisa mengelola emosi agar keadaan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tidak jarang saya berusaha sekuat-kuatnya bertahan untuk tidak terintimidasi dengan keadaan yang terjadi secara alamiah karena ulah orang lain. 

Dipekerjaan saya sehari-hari misalnya, menghadapi anak usia dini dengan berbagai karakter mengajarkanku seperti apa yang namanya ekstra sabar dan tidak kasar (perlakuan maupun kata-kata), karena jujur saja, anak-anak ini semuanya ‘aktif’. Manusia mana yang bisa santai saat mengetahui seorang anak berhasil mendorong temannya dari ayunan hingga jatuh dan terluka. Pastilah kita akan marah pada anak tersebut. Tapi sekali lagi, marah hanya akan memperburuk keadaan. Marah juga bisa melukai perasaan si anak tersebut meskipun kita tahu bahwa yang dilakukannya adalah hal yang tidak terpuji.
 
Sebenarnya ada banyak cara untuk memperbaiki keadaan, apalagi saat kita menghadapi situasi paling genting. Sudah terbayang, saat kita dihadapkan situasi seperti itu, kemudian emosi kita malah makin kesulut. Percaya deh, keadaan hanya akan semakin memburuk.
 
Ada satu pesan pada sampul sebuah majalah, yang sampai saat ini menjadi salah satu dari banyak pengingat ketika saya sedang resah karena keadaan, “Kadang, bukan suasana yang harus diganti. Tapi rasa yang perlu kita perbaiki”. Kalimat ini ada benarnya, menurut saya, suasana bisa rusak karena rasa (baca: perasaan) kita yang kurang stabil. Apapun faktornya, seharusnya suasana tidak menjadi rusak hanya karena perasaan yang sudah terlanjur kacau. Menurut Ros Taylor, psikolog dan penulis, bahwa seseorang bisa menjadi penghancur bagi orang lain. Hal itu terjadi jika orang tersebut tidak bisa mengelola pikiran dan perasaannya secara positif. Dan itu akan menjadi pemicu hilangnya rasa percaya diri. 

Intinya, segenting apapun situasi yang kita hadapi. Bertahanlah. Jangan biarkan emosi negatif memperbudak diri kita untuk melakukan hal-hal yang semakin memperburuk keadaan. Komunikasikan dengan bahasa dan cara yang tepat agar semuanya membaik. Bukan dengan diam atau marah-marah. Laa taghdhob, janganlah kamu marah.

Mention seorang teman, "Dulu juga kita hanya punya semangat... sekarang kita punya semangat ditambah pengalaman... pasti kita mampu utk eksekusi kegiatan".

Saya sangat bersyukur jika dihadapkan pada sebuah masalah, karena disinilah kita saling menguatkan, saling menasihati, saling curhat, menjadi saling tau dengan apa yg selama ini dipendam. Dan, terimakasih buat teman-teman yang selama ini tidak lelah memberi dukungan, kalian adalah guru perasaanku. Jazakumullah ya :)

*catatan ini dibuat setelah sesuatu yg 'sengit' terjadi diantara kami

Thursday, August 29, 2013

Kita sebagai Muslimah


Apa jadinya, jika seorang wanita sekedar untuk mengingatkan suami atau anak laki-lakinya menunaikan sholat jum’at saja ia enggan. Atau ketika bulan puasa, siang bolong diajak teman-temannya yang sedang tidak berpuasa makan siang ia bersedia tanpa ada penolakan sedikitpun. Na’udzubillaah…

Sudah menjadi kewajiban seorang muslimah, disaat orang-orang terdekatnya sedang dalam keadaan future, ia mengingatkan. Peran seorang muslimah itu sangat penting. Bagaimana ia akan menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya sedang hanya untuk mengingatkan pun ia enggan. Padahal perannya disaat-saat seperti itu sangat dibutuhkan. Alangkah indah jika seorang wanita ketika anak laki-lakinya sedang ogah-ogahan menunaikan ibadah wajib, ia berusaha bekerja sama dengan pasangannya agar anaknya kembali rajin beribadah. 

Peran kita sebagai muslimah tidak hanya sekadar menjadi wanita biasa. Kontribusi seorang wanita terhadap hidup ini sangatlah besar. menjadi ibu yang cerdas bagi anak-anak,

Tuesday, August 27, 2013

Surat Cinta dari Sang Ayah

Putriku tercinta dan guru yang tak ternilai, Asma al-Beltaji. Saya tidak mengucapkan selamat tinggal kepadamu, saya katakan besok kita akan bertemu lagi.

Engkau telah hidup dengan kepala terangkat ke atas, melakukan pemberontakan melawan tirani dan belenggu dan mencintai kebebasan. Dengan diam, engkau telah hidup sebagai seorang pencari cakrawala baru untuk membangun kembali bangsa ini sehingga mereka mempunyai tempat yang layak di antara peradaban.

Engkau tidak pernah menyibukkan diri dengan apa yang orang-orang seusiamu sibuk melakukannya. Meskipun pendidikan tradisional gagal memenuhi aspirasi dan ketertarikanmu, engkau selalu menjadi yang terbaik di dalam kelas.

Saya tidak memiliki cukup waktu yang berharga dalam hidup yang singkat ini, terutama